(BENISUBIANTO.COM),- Perkebunan kelapa sawit masyarakat merupakan bagian integral dari lanskap pertanian di Indonesia. Jutaan keluarga menggantungkan hidupnya dari komoditas ini. Namun, di tengah hamparan hijau sawit, seringkali bersembunyi kekayaan hayati yang luar biasa, mulai dari primata, burung, hingga serangga.
Konflik antara manusia dan satwa liar, terutama di perkebunan kecil, bukanlah hal baru. Akan tetapi, ada cara bagi petani sawit rakyat untuk berkontribusi pada konservasi, menciptakan harmoni antara produktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan. Ini bukan hanya tentang meminimalkan dampak negatif, melainkan juga tentang memahami bagaimana kehadiran satwa liar justru dapat memberikan manfaat bagi kebun itu sendiri.
Mengapa Petani Perlu Peduli Satwa Liar?
Bagi sebagian petani, satwa liar mungkin dianggap sebagai hama. Namun, pandangan ini perlu diperluas. Menjaga satwa liar di sekitar kebun sawit memiliki beberapa keuntungan yang seringkali luput dari perhatian:
- Pengendali Hama Alami. Burung hantu adalah predator alami tikus, salah satu hama utama di perkebunan sawit. Ular juga dapat membantu mengendalikan populasi tikus. Kehadiran kelelawar bisa mengurangi serangga perusak. Dengan membiarkan predator alami ini hidup, petani dapat mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang mahal dan berpotensi merusak lingkungan serta kesehatan.
- Penyerbuk Tanaman. Meskipun kelapa sawit sebagian besar diserbuki angin, beberapa serangga juga berperan dalam proses penyerbukan. Keanekaragaman serangga di kebun bisa mendukung kesehatan ekosistem secara keseluruhan.
- Kesehatan Tanah dan Ekosistem. Keberadaan Flora dan Fauna yang beragam di sekitar kebun membantu menjaga kesuburan tanah, mengurangi erosi, dan menjaga siklus air. Ini pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan sawit yang lebih baik dan berkelanjutan.
- Akses Pasar dan Sertifikasi. Kesadaran konsumen global terhadap produk berkelanjutan semakin meningkat. Petani yang menerapkan praktik ramah lingkungan, termasuk konservasi satwa liar, akan memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pasar dengan nilai jual lebih tinggi atau bergabung dalam skema sertifikasi seperti RSPO atau ISPO.
Praktik Konservasi Satwa Liar untuk Petani Sawit
Menerapkan konservasi tidak selalu berarti melakukan perubahan besar atau mengeluarkan biaya tinggi. Banyak praktik baik yang sederhana namun berdampak signifikan:
- Mempertahankan Area Hutan yang Tersisa (Bukan Mengubahnya). Jika ada sisa-sisa hutan atau semak belukar di dalam atau di sekitar lahan perkebunan, jangan diubah menjadi kebun sawit. Area-area ini, sekecil apapun, berfungsi sebagai “pulau” habitat bagi satwa liar dan menjadi koridor penting bagi pergerakan mereka. Ini bisa berupa bantaran sungai, lereng curam yang tidak bisa ditanami, atau area yang secara tradisional tidak digarap. Area ini juga bisa menjadi tempat tinggal alami bagi predator hama.
- Menanam Tanaman Penyangga dan Pembatas. Di batas-batas kebun, terutama yang berdekatan dengan hutan atau permukiman, petani bisa menanam tanaman penyangga seperti pohon buah-buahan lokal atau tanaman keras lainnya. Ini berfungsi sebagai sumber makanan alternatif bagi satwa liar, sehingga mengurangi keinginan mereka untuk masuk ke area sawit mencari makan. Tanaman berbatang duri juga bisa menjadi pagar alami yang tidak disukai gajah atau babi hutan.
- Membuat Kolam atau Sumber Air Kecil. Satwa liar juga membutuhkan air. Jika memungkinkan, membuat kolam kecil atau mempertahankan genangan air di beberapa titik yang aman dapat menjadi sumber air bagi hewan, mencegah mereka pergi terlalu jauh ke permukiman mencari minum.
- Tidak Berburu atau Menjerat Satwa Liar. Edukasi adalah kunci. Penting bagi petani dan komunitas sekitar untuk tidak melakukan perburuan, menjerat, atau menyakiti satwa liar. Konflik yang terjadi harus disikapi dengan cara-cara yang sesuai dan tidak melanggar hukum. Jika ada satwa liar yang masuk ke kebun dan menimbulkan masalah, segera laporkan kepada pihak berwenang (misalnya BKSDA atau lembaga konservasi setempat) untuk penanganan yang tepat.
- Mengelola Limbah dengan Bijak. Sampah organik dari buah sawit atau sisa makanan bisa menarik perhatian babi hutan atau tikus. Mengelola limbah dengan baik dan tidak menumpuknya sembarangan dapat mengurangi potensi datangnya satwa liar yang mencari makan.
- Meminimalkan Penggunaan Pestisida Berbahaya. Pestisida kimia tidak hanya membunuh hama, tetapi juga dapat membahayakan satwa liar non-target, termasuk predator alami hama dan penyerbuk. Petani bisa mempertimbangkan penggunaan pestisida nabati atau praktik Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk mengurangi dampak negatif.
Kesimpulan
Pada akhirnya, menjaga satwa liar di perkebunan kelapa sawit rakyat bukanlah sekadar kewajiban, melainkan sebuah investasi cerdas bagi petani. Dengan menerapkan praktik-praktik sederhana seperti mempertahankan area habitat alami, menanam tanaman penyangga, mengelola limbah, serta menghindari perburuan dan penggunaan pestisida berbahaya, petani tidak hanya berkontribusi pada konservasi keanekaragaman hayati yang vital.
Lebih dari itu, mereka menciptakan ekosistem perkebunan yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas dan membuka akses ke pasar yang lebih luas. Harmoni antara sawit rakyat dan satwa liar adalah kunci menuju masa depan pertanian yang lestari dan sejahtera bagi semua.
Sumber Rujukan:
- Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Berbagai publikasi mengenai sawit berkelanjutan dan program petani sawit. (Akses melalui situs web resmi BPDPKS).
- Fadli, N., & Rosli, A. (2020). Human-Wildlife Conflict in Oil Palm Plantations: A Review of Mitigation Strategies. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 540(1), 012028. (Artikel ilmiah mengenai konflik dan strategi mitigasi).
- Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Dokumen dan kebijakan terkait pengelolaan perkebunan dan lingkungan. (Contoh: BAPPEDA Provinsi Kalimantan Tengah).
- Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Materi edukasi dan panduan bagi petani kecil. (Akses melalui situs web resmi RSPO: www.rspo.org).
- United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia. Laporan dan inisiatif terkait pembangunan berkelanjutan dan kelapa sawit. (Akses melalui situs web resmi UNDP Indonesia).
- WWF Indonesia. Publikasi dan program konservasi di lanskap sawit. (Akses melalui situs web resmi WWF Indonesia).